Langsung ke konten utama

Kopi Lagi

Kopi membantuku meningkatkan sensitivitas indra perasaku. Mencari rasa selain pahit di saat menyeruput kopi, membuat lidahku bisa menemukan rasa pahit dalam garam, atau rasa manis dalam cabai. Ada kopi yang memiliki rasa buah, ada yang terasa seperti madu ataupun gula aren, namun aku justru tak menemukan rasa itu ketika mencarinya, dan mereka datang saat aku hanya ingin minum kopi agar mata melek saja.

Konsumsi garamku menurun semenjak aku menemukan rasa pahit di dalamnya. Dosis gula pasirku juga menurun drastis, namun makan nasi tetap banyak. Penggunaan bumbu dapur berkurang. Makan nasi-garam kadang terasa begitu nikmat dan istimewa. Semua berawal dari ngopi, hal yang sedang naik daun-naik daunnya saat ini. Aku bersyukur mengenal kopi sebelum mengenal Filosofinya, sama seperti mengenal naik gunung sebelum mengenal Lima Sentinya. Saat aku bertemu kopi asam yang dibagikan gratis pada perayaan hari kopi sedunia, aku tak pernah mengira bahwa ngopi tanpa gula akan menjadi kebiasaan yang menyembuhkan lidahku.

---------------------------------------------------

Satu Oktober 2015,
Andi dan aku datang ke Taman Kuliner Condong Catur hanya untuk mendapat kopi gratis. Kami memang penggemar begadang bersama kopi, kopi keras manis tinggi (KKMT). Kami mengambil beberapa gelas dengan sangat bersemangat. Senyum merdeka di wajah Andi menyiratkan kata-kata “Lumayan Lik, kopi mahal kita dapat gratis”, aku tersenyum saja sambil mengangguk-anggukkan alisku. “SRUPUT......” suara itu terdengar begitu mantap dari gelas Andi sementara aku masih menunggu kopiku sedikit lebih dingin. “Mantap Ndi?” tanyaku pada Andi yang menatap ke arahku dengan mata memicing dan bibir mencibir. Ia pasti sedang bercanda. Andi menganggat jempolnya sambil berteriak “Mantap Lik!”.

Kopiku sudah agak dingin, giliranku menyeruput pun tiba. “Asam? Yang benar saja?!” pikirku, sebab yang kutahu kopi adalah pahit, namun demikian tetap saja aku menghabiskannya selagi hangat. Kami pun beranjak ke juru seduh yang lainnya, Andi melirik gelasku yang telah kosong dan berkata “Weh, doyan dia! Mau lagi ga Lik?” sambil menyodorkan kopinya yang masih separuh. Apa aku bisa menolak?

Sang juru seduh memresentasikan kopi yang sedang diseduhnya, mulai dari asal kopi, ketinggian daratan tempat tumbuhnya, cita rasa yang berbahasa inggris seputaran fruity acidity dan apalah yang Andi dan aku hanya a-o-a-o olehnya. Pikiranku berkata “Jujur saja kami tak peduli itu Mas, kami ke sini cuma ingin minum kopi” namun tentu yang keluar dari bibirku hanya senyuman. “Segelas saja ya?! Bagi-bagi” kata Andi lalu kemudian meniup kopi yang barusan ia ambil dari tangan tukang seduh itu. “SRUPUT” lagi-lagi suara itu begitu mantap terdengar, dan masih disambut dengan ekpresi wajah seperti yang ia tunjukkan sebelumnya. “Mantap Ndi?” tanyaku lagi, “Mantap Lik!” teriaknya lagi, “mau coba?” lanjutnya, “boleh” jawabku. Gelas ke tiga di tanganku, yang dua kutumpuk, isinya tinggal seperlima, yang satu baru berkurang satu kali sruputan. “SRUPUT” kali ini giliranku, dan lagi-lagi rasanya asam, pikirku “Aku makan apa ya hari ini? Sepertinya lidahku bermasalah”. “Enak Lik?” tanya Andi, aku hanya mengangguk, “habiskan saja” katanya lagi.

Masing-masing dari kami menghabiskan lebih dari tiga gelas kopi hari itu, Andi mulai mencari sandaran, ia bilang kepalanya terasa pusing. “Sepertinya tensiku naik Lik” katanya sambil memejamkan mata dan menganggat alisnya tinggi-tinggi. Kami pun memutuskan untuk pulang.

---------------------------------------------------

Barusan kuhabiskan segelas kopi kapal tanpa gula, teringat pada kawanku yang kini mungkin sedang menyeruput robusta yang menurutku paling nikmat rasa pahitnya, robusta yang berasal dari daerahnya, robusta yang ia sebut sebagai “anak tiri perkopian”. “Kalau saja robusta diberi kesempatan sama seperti arabika, dipanen hanya yang merah saja, dipilih yang terbaik saja. Cita rasanya mungkin akan mengalahkan arabika” katanya saat memperkenalkan kopi Lampung itu padaku.

Aku juga teringat pada Kopi Aksara “Robusta Lampung Tubruk” selalu menjadi pesananku pada juru seduh di sana. Pesanan yang kata si pemilik kedai “sangat melawan”. “Melawan?” tanyaku padanya. Ia menjelaskan “Pertama karena robusta, ke dua karena Lampung, ke tiga karena tubruk, yang terakhir, kamu pakai baju merah bergambar sepeda!” kemudian pergi meninggalkanku, saat datang kembali ia memaparkan jawaban yang sebelumnya “Robusta adalah kopi yang tak terlalu populer saat ini. Robusta adalah kopi yang pahit, di mana robusta Lampung adalah yang paling pahit. Teknik seduh tubruk akan memperkuat rasa pahit kopi, namun kamu justru selalu memesan itu. Kami punya banyak kopi, cobalah yang lain. Teknik seduh juga ada banyak, untuk V-60 kami masih beri diskon, harganya sama dengan tubruk.” dengan nada seperti petugas asuransi yang sedang presentasi pada calon nasabah. Setelah hari itu, aku mencoba memesan arabika meski masih ditubruk, dan Aksara mulai mengajarkanku tentang rasa kopi.

Ada rasa coklat dalam robusta Lampung, ada rasa nangka dalam Kintamani, dalam kopi lainnya ada rasa gula aren, madu, jeruk bali, lemon (yang dulu kusebut sebagai sereh), ada warna yang terlintas dalam benak saat kopi menyentuh indra perasa. Semua menghilang ketika indra kita tidak terlalu peka, menurun sensitivitasnya karena terlalu biasa makan dan minum gula. “Nasi mengandung gula, lauknya pakai kecap.”, “Habis makan, minumnya teh manis”, “Minum kopi juga manis, teman kopinya biskuit, manis pula”, “Seolah apapun yang kita konsumsi harus ada rasa manisnya, tentulah diabetes menjadi penyakit yang paling banyak diidap warga negara kita” jelas mereka padaku. Diet gula kita memang layak diganjar dengan penyakit diabetes, bukan karena kita berdosa, namun tubuh punya batasnya.

Andi adalah pengidap diabetes termuda yang pernah kutemui hingga hari ini. Ia pernah menderita luka berair yang butuh waktu lama untuk sembuh, hanya karena gigitan nyamuk, setelah sembuh pun bekas lukanya menghitam. Ia juga pernah mengaku bahwa bau urinnya persis bau gula pasir, mungkin karena KKMT yang biasa ia konsumsi, belum lagi pola seperti yang dijelaskan kawan-kawan Aksara. Kini ia sudah sembuh dari diabetesnya, namun penyakit itu adalah penyakit kebiasaan yang tak ada obatnya. Aku pernah hampir terjangkit, mungkin karena tinggal di kota yang segala hidangannya manis dan mulai suka pada hidangan-hidangan itu.

Kini lidahku telah sembuh, sembuh dari penyakit kurang peka, penyakit yang menyebabkan aku memakan lebih banyak gula, garam atau bumbu. Penyakit ini mungkin sepele, namun penyakit lain yang siap menyusulnya tak dapat dianggap sepele. Awal mula kesembuhannya juga karena hal sepele, hanya sekadar ingin merasakan kopi, namun rupanya kemampuan merasakan kopi itu juga tak pernah dianggap sepele oleh mereka yang hidup dari dan untuk kopi.

10-11 Desember 2018
11:30 PM - 12:28 AM
@KMHD UNY – Perpustakaan Kota – Kost Santren

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...