Mengapa manusia suka membuat
gedung tinggi, mendaki ke tempat yang tinggi, dan juga suka ditinggikan?
Manusia bahkan mengaku sebagai makhuk yang derajatnya paling tinggi di antara
semua ciptaan Tuhan. Apakah manusia memang istimewa seperti yang dituliskan
dalam kitab suci? Atau itu semua karena kitab suci itu hanya diperuntukkan dirinya?
Mungkin keistimewaan
manusia adalah dalam kekosongannya, sebab anjing meskipun tidak diasuh oleh
anjing tetap saja ketika dewasa akan menggonggong, kucing juga sudah pasti
mengeong, cicak berdecak, namun manusia tidak demikian. Manusia harus meniru
agar bisa sesuatu, manusia tak punya keaslian seperti halnya kucing dan anjing.
Kucing tak perlu membaca buku atau berlatih berjalan agar nampak anggun. Anjing
tak perlu mengikuti seminar atau kursus berbicara di depan pubik agar bisa
berteman dengan manusia. Secara tidak sengaja, tanpa kehendak, kucing akan
otomatis berjalan dengan cara yang anggun, begitu pula dengan kesetiaan anjing,
ia tak memilih untuk setia. Kekosongan itu, mengapa harus diisi? Bagaimana jika
dibiarkan kosong saja? Bukankah di sana letak keistimewaan manusia?
Kekosongan itu,
katanya adalah sesuatu yang berbahaya. Berbahaya sebab yang kosong akan sangat
mudah diisi, jika diisi dengan hal yang tak semestinya. Memilah dan memilih hal
yang semestinya dimasukkan ke dalam kekosongan itu, sepertinya memerlukan waktu
seumur hidup si manusia. Setiap hari adalah proses pengisian, setiap hari
adalah waktu belajar, setiap hari harus diisi dengan upaya meninggikan diri,
sebab konon manusia berasal dari sesuatu yang tinggi, kemudian dijatuhkan ke
muka bumi.
Manusia seolah
benci sesuatu yang rendah. Martabat yang rendah, harga diri rendah, sikap
rendah diri hingga direndahkan. Direndahkan bukanlah sesuatu yang rendah, namun
tetap saja manusia tak suka. Direndahkan adalah upaya merendahkan, dan yang
bisa direndahkan adalah sesuatu yang tinggi, dan yang berupaya merendahkan
biasanya adalah yang rendah. Ada juga kerendahan yang disukai oleh manusia
yaitu rendah hati, mungkin karena kata rendah hati adalah sebuah pujian. Satu
lagi adalah low profile, yang mungkin juga merupakan peninggian. Ini
adalah bukti bahwa kata rendah tak selamanya berarti merendahkan, sementara kata
tinggi sering kali digunakan untuk merendahkan.
“Tinggi pun
rendah, yang berbeda hanyalah derajatnya” kata guruku. Tak akan ada yang dapat
disebut tinggi jika tak ada yang rendah, begitu pula sebaliknya, jadi yang
mendapat derajat tinggi mungkin perlu berterimakasih pada yang berderajat
rendah, sebab hanya dengan dibandingkan dengan yang rendahlah bisa didapat
gelar tinggi tersebut. Hal yang nampak tinggi dan rendah tersebut, bagaimana
jika dilihat dari sisi tak nampaknya? Orang tinggi apakah masih dapat disebut
tinggi ketika masih suka merendahkan? Bukankah merendahkan adalah sifat rendah?
Tontonlah sebuah
FTV yang ada tokoh kampungannya. Tokoh kampungan itu pasti digambarkan dengan
pakaian adat, katanya ini adalah upaya merandahkan adat dan pedesaan. Orang tua
di desa adat akan menganggap itu sebagai lelucon saja, mungkin karena mereka
punya hati yang rendah, dan spiritual yang tinggi. Bagaimana dengan pemuda desa
yang pindah ke kota? Apa bisa menerima dengan lapang dada?
Aku masih
seorang manusia, dan masih merindukan sesuatu yang tinggi. Kerinduan pada
sesuatu, tentu disebabkan oleh karena kita pernah berada atau pernah melihat
sesuatu itu. Manusia merindukan cahaya karena berasal dari cahaya. Merindukan keindahan,
karena berasal dari sesuatu yang indah. Merindukan kedamaian, karena berasal
dari tempat yang damai. Merindukan kekasihnya, karena..... karena..... ini
silakan dijawab sendiri.
18 Desember 2018
02:06 PM
@Taman Lembah UGM
Komentar
Posting Komentar