Langsung ke konten utama

Tersenyumlah

Lakukan saja sambil tersenyum, meski kau sedang tak ingin tersenyum, atau kau tak ingin melakukan pekerjaan itu. Menunggu niat datang mungkin saja berakhir dengan kesia-siaan sebab rasa tak berniat bisa makin menjadi-jadi ketika kita hanya menunggu tanpa melakukan apa-apa. Kerjakan sesuatu di dalam penantianmu, nanti niat itu akan datang. Tersenyum juga begitu, ia bisa mengundang kebahagiaan untuk hadir.

Banyak ide tak menjaminmu menyelesaikan sebuah karya. Niat memuncak juga tak menggaransikan, hanya tindakan yang paling menjamin jadinya karyamu, maka mulailah bertindak. Tindakan adalah sebagian dari doa, langkah adalah sebagian dari pencapaian, meningkat adalah sebagian dari puncak. Tempat terjauh hanya dapat dicapai setelah melalui dekat, tempat tertinggi harus memiliki dasar di kerendahan. Kau mungkin saja tak butuh ketinggian atau kejauhan, yang selama ini kau cari mungkin saja hanya sebuah semangat untuk tetap menjaga langkah, sebab dengan tetap melangkah kau takkan peduli seberapa jauh yang harus kau lalui, tak hirau dengan seberapa tinggi yang harus kau daki. Bibit semangat itu semua orang pasti punya, namun menumbuhkan dan merawatnya belum tentu semua orang bisa.

Hari ini kau semangat sekali, langkahmu cepat, jari-jarimu mengetik dengan akurat, jagalah agar tetap demikian. Merawatnya mudah, hanya saja kau harus rajin memupuk dan menyiraminya. Cukup dengan melakukan sesuatu, kemudian mendinginkan setelahnya. Berkarya terlalu banyak membuat pikiran semakin liar dan ingin berkuasa, maka setelah berkarya duduk dan heninglah. Sambil menghening, ingatlah untuk menyenyumkan bibirmu.

27 Desember 2018
@Santren
10:54 PM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...