Buat apa aku menulis tentangmu atau menulis untukmu? Kan tiap sore kita lalui bersama? Sejak subuh pun kita sudah saling sapa. Bahkan malam hari kita teleponan sampai salah satu ketiduran. Buat apa lagi ada tulisan-tulisan?
Kurasa lebih baik kita tu de poin saja. Kalau suka katakanlah suka. Jika ada sesuatu yang mengganjal di pikiran, katakanlah tanpa perlu banyak rima. Kode-kode juga bukan hal yang terlalu berguna sebab tingkat efisiensinya rendah. Lagipula aku tak merasa cukup peka untuk dapat memahami apa yang kau maksud dari perilakumu, jadi katakanlah dengan jelas dalam jangka waktu yang singkat. Sebab ada banyak kerjaan yang harus kuselesaikan. Kalau kau ada waktu lebih, mungkin kau bisa bantu. Atau kalau kau ada kerjaan juga, kita bisa selesaikan bersama-sama. Waktuku sangat berharga, jadi tolong mengertilah.
Bahasa tulis itu sangat terbatas. Tak ada ekspresi di dalamnya. Tak ada suara dan nada bicara meskipun sudah dibantu oleh tanda-tanda baca. Keadaan psikis pembaca juga sangat berpengaruh terhadap caranya membaca. Kalau moodnya sedang bagus, mungkin ia akan berbunga-bunga. Sebaliknya jika moodnya buruk, ia akan jadi sedih atau jengkel.
Jadi sudahlah! Terima saja aku yang seperti ini. Aku tak pandai membuat puisi yang indah. Kata-kataku pun sepertinya tak dapat menggetarkan hati.
Aku sudah terlalu banyak menulis. Guru di sekolah, dosen, kawan-kawan komunitas, semua menuntutku menulis. Kini kau lagi. Tolong jangan jadi sama saja dengan mereka, sebab kau adalah orang yang berbeda.
30 April 2020
@Kontrakan ConCat
09.57 PM
Komentar
Posting Komentar