Langsung ke konten utama

Setara

Tuhan, apakah surga itu layak untuk diperebutkan? Bolehkah jika aku membuang kesempatan untuk masuk ke dalamnya dan memilih untuk bersamamu saja? Orang-orang mengakuisisi surgamu dan membuatku mulai muak lagi. Setelah sekian lama aku mencoba untuk percaya pada nurani yang ada dalam setiap insan, kini aku mulai kembali tidak yakin.
Dosen Agamaku berkata “Tujuan mereka adalah surga, tujuan kita moksa” apakah moksa hanya bisa dicapai oleh orang yang berKTP Hindu? Lalu bagaimana dengan Krhsna dan Siddharta yang tak punya KTP? Mereka bahkan tidak mengklaim diri beragama Hindu. Sementara aku meyakini bahwa Muhammad dan Yesus telah mencapai moksa, aku dikatakan sebagai “tak mungkin mencapai surga”. “Ambil saja surga itu!” kataku, sebab jika surga hanya berisikan orang-orang fasis, maka derita pulalah yang akan ada di sana. Jika aku masuk surga yang sedemikian rupa, bukankah berarti aku fasis juga? Tapi memang iya aku fasis, sebab itulah aku menganggap mereka perlu merombak pemikirannya.
Bolehkah aku memesan untuk disegerakan pulang padamu? Aku bosan jika harus menghadapi orang-orang yang tak mau berdiskusi tentangmu hanya karena jidatku tidak hitam. Juga mereka yang menjauhiku hanya karena celanaku cingkrang. Pun yang menganggapku merupakan calon penghuni kerak neraka. “KTPmu Hindu sembahyangmu lima waktu tapi di Gereja. Pola makanmu biksu, tapi kamu punya pacar. Agamamu sebenarnya apa?” itulah pertanyaan yang diajukan oleh beberapa teman sebab tata caraku tak sesuai dengan salah satu standar yang disepakati di negaraku. Kucoba menjadi Islam yang sembahyang dengan bahasa Sansekerta. Sesekali aku ikut misa di gereja dan pola makanku meniru yang dilakukan sang Buddha. Memangnya kenapa?
Aku ingin kembali melihat semuanya setara. Mau yang mengganggapku kafir atau yang menyebutku sebagai wali, yang memanggilku kambing ataupun yang menyapaku dengan kata biksu, yang menggonggong atau yang padaku meminta tolong, aku ingin kasih pada mereka. Mengasihi meskipun tak dikasihi, sebab kasihMu saja sudah memenuhi kehidupanku maka tak perlulah aku mengemis kasih pada makhluk yang kau ciptakan.

@Jakal km 7
02 Januari 2020
08:33 PM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...