Saya sedang berusaha untuk pulang kampung saat ini, sebab mudik dilarang. Dilarang karena alasan menghentikan penyebaran virus Corona. Saya terpikir "Menghentikan ya? Apa bisa?"
Apakah bisa penyebaran itu dihentikan ketika sehari-hari portal-portal gang dijaga oleh lebih dari lima orang guna melakukan pengecekan, dugeman, dangdutan, karaokean, nobar dan segala tetek bengeknya? Padahal pemerintah juga melarang berkumpul, bahkan kursi panjang di tempat umum pun disilang-silang guna memberi jarak antar pengunjung. Sementara itu orang-orang portal bersalaman seperti biasa.
Sama seperti portal, pos ronda pun dijaga oleh bapak-bapak dan anak muda. Kata Bapak saya "supaya kentungan di pos tidak hilang". Bagus juga, mengingat usia Bapak yang sudah menginjak kepala tujuh, mungkin ronda sampai larut malam bisa meningkatkan imunitas tubuhnya.
Bapak juga menyampaikan bahwa di pos kamling tetangga sering ada yang bernyanyi sampai teriak-teriak, beberapa kali ia juga melihat ada yang minum minuman keras sampai mabuk. "Masih untung mereka tidak buat kerusuhan. Setelah mabuk ya pulang" kata Bapak. Ya, orang Bali memang selalu bilang "untung" dalam keadaan apapun.
Untung masih ada yang jaga. Untung masih bisa karaokean. Untung masih bisa mabuk. Untung masih bisa bilang "kami di sini untuk kalian, kalian di rumah untuk kami". Untung kan? Ya untung lah.
Dari keuntungan-keuntungan tersebut di atas dan beberapa lainnya yang tak saya sebutkan satu per satu, dapat saya tarik kesimpulan bahwa adanya covid sangatlah menguntungkan. Terutama bagi dagang arak yang kini jadi punya pelanggan tetap. Persewaan sound system juga, kini bisa menyewakan hampir tiap malam. Dagang gorengan dan kacang kapri tertunjang ekonominya. Kalau yang ronda panggang-panggangan ayam atau lele, tentu itu menguntungkan peternak.
Yang tak kalah untung adalah yang diam di rumah. Bagaimana tidak? Selagi asyik rebahan di kamar karena kantor sedang memberi liburan sampai waktu yang tak ditentukan, saldo tabungan makin tipis, eeh ada yang memberikan penjagaan ketat secara gratis. Kurang surga apa hidup yang demikian?
Kemudian saya menyadari bahwa saya tidak sedang di rumah, maka dari itu saya ingin pulang kampung.
4 Juni 2020
@kontrakan ConCat
09.37 pm
Nk ora ng umah yaa pulang ke rumah, udu pulang ke kampung 😏
BalasHapusOmahku nang kampung Su, ya walaupun nang Jogja juga ana. 😘
Hapus