Aku sedang menggali lubang di
kepalanya. Aku cabut rambutnya satu per satu untuk meneduhi tubuhku dari hujan
dan badai yang terus saja menerpa. Aku harus aman dan bertahan dalam dinginnya
hujan keinginan. Aku tak boleh koyak tergerus badai gengsi. Aku harus punya
uang lebih bayak daripada yang kubutuhkan. Harus ada tabungan, harus ada
simpanan untuk masa depan, harus sejahtera sampai tujuh turunan. Anak-anakku
harus hidup dengan tenang dan bergelimang harta. Mereka harus mendapat
kenyamanan hidup yang tak pernah aku rasakan semenjak aku memijak bumi.
Bumi yang kupanggil
sebagai Ibu sepertinya tak begitu kasih padaku. Kapan ia memberiku sesuatu? Kurasa
tak pernah terjadi ia “memberi dan tak harap kembali”. Aku masih harus berjuang
untuk mendapat sesuatu. Aku berupaya agar ada. Lalu ia marah padaku hanya
karena secuil tanahnya kugali, hanya karena sepetak hutannya kugunduli. Apakah
ia menganggap kami sebagai anaknya seperti kami menganggap ia sebagai Ibu?
Aku meragukan
keibuanmu wahai Bumi. Mengapa engkau tege membalasku dengan cara seperti ini?
Penyakit tersebar ke seluruh penjuru dunia, banjir, gunung meletus. Kepanikan
membuat kami saling tuduh, saling curiga, bahkan saling bunuh. Bagaimana mungkin
kau tega lakukan ini pada kami jika memang engkau adalah Ibu?
Lalu tamparan
keras menghantam wajahku. Bukan sebuah tangan namun sebuah gambar yang
menunjukkan bahwa aku memang hanya mengambil sebagian kecil saja. Namun aku
tidak sendiri dalam hal mengambil. Sebagian kecil ternyata mengambil bagian
besar, berkali lipat dari yang bisa diambil oleh jutaan orang. Sebagian besar
justru mati karena lapar dan tak mendapat apa-apa. Aku pun mulai mempertanyakan
keberadaanku sebagai anak. Benarkah aku memandang Bumi sebagai Ibuku? Juga aku
memertanyakan di mana posisiku jika dibandingkan mereka yang kaya ataupun yang
ak mendapat apa-apa?
Aku tidak terlalu
peduli karena hidupku selama ini cukup aman. Tak mungkin bagiku untuk mati
kelaparan. Keidaman menjadi kaya raya sering terlintas dalam benakku dan
rasanya itu adalah sebuah hil yang mustahal. Semoga saja suatu hari akan
tercapai kekayaan itu agar aku bisa memberi makan mereka yang hampir mati
kelaparan. Cita-cita mulia yang pasti dapat mengobati penyakit dunia.
Tamparan pun
terjadi lagi melalui sebuah pertanyaan “Mengapa harus menunggu menjadi kaya
untuk membantu sesama? Bukankah logikamu terbalik?” kemudian ia menjelaskan
bahwa kaya hanya akan ada jika ada yang dimiskinkan. Inilah sumber penyakit
yang sebenarnya, yaitu orang-orag berbondong mengejar kematerian yang begitu
banyaknya sampai tak sempat peduli pada sesamanya. Keinginan untuk menjadi kaya
itulah yang membuat kemiskinan tetap ada.
Mengejar
kepuasan pribadi membuatku menjadi begitu tamak. Aku lupa bahwa Bumi memerlukan
pohon lebih daripada yang kuperlukan. Aku juga lupa bahwa aku lebih butuh pohon
sebagai penghasil oksigen daripada sebagai penyokong genteng rumahku. Aku lebih
butuh makan daripada deposito yang jangka tariknya berpuluh tahun ke depan. Aku
lebih butuh kelesarian alam sebagai warisan pada anak cucuku tujuh turunan daripada
sebuah Villa yang megah.
Bencana yang
dulu kuanggap sebagai kemarahan bumi, kini terasa sebagai “garuk-garuk kepala”
saja. Ibu Periwi mungkin telah terlalu lama menahan rasa gatal di kepala yang
manusia buat. Keramas dianggap banjir, pencet jerawat disebut sebagai gunung
meletus, mandi dinamai sebagai tsunami. Terbayang ia berkata “Ibu hanya perlu
merawat diri Nak”.
30 Maret 2020
@Kost Amal
12:03 AM
@Kost Amal
12:03 AM
Komentar
Posting Komentar