Langsung ke konten utama

Menyelam


  Dalam sebuah perbincangan ringan, akan timbul beberapa pertanyaan dan pernyataan yang cukup berat dan cukup serius. Seperti yang terjadi semalam, kami berbincang-bincang sambil menonton drama Korea, dan satu pertanyaan serius muncul “bagaimana cara mendalami ilmu Agama, tapi tidak menyelam terlalu dalam?” aku terdiam sesaat, tertawa geli karena merasa bahwa diri ini dianggap menyelam terlalu dalam oleh kawanku itu.

  Pertanyaan yang diajukan oleh kawanku itu mungkin merupakan pertanyaan yang pernah muncul di setiap pikiran orang yang menganut agama. Lalu, apa jawabku? Apa jawabmu? Apa jawab Guru Agama?

  Aku menjawab pada diriku sendiri dengan pertanyaan “Tergantung, seberapa jauh kau mampu menyelam? Seberapa dalam ilmu itu? Seberapa yakin dirimu merasa mampu menyelami hingga dapat disebut ‘terlalu dalam’?”

  Kita terlalu takut memasuki lautan kebenaran, sering kali karena merasa takut sendiri. Sendiri ketika ingin menyelam, sedangkan teman-teman kita hanya ingin berenang. Teman-teman juga merasa takut karena hal yang sama “memangnya ada yang mau diajak menyelam?”, lalu mengurungkan niat atas asas dugaan bahwa “tak ada yang mau ikut menyelam”. Pernahkah mencoba menawarkan diri untuk jadi pelopor penyelaman? Misalnya dengan mengajak mereka, barangkali yang mereka butuhkan adalah pemimpin. “aku merasa tak pantas jadi pemimpin” mungkin bisa saja muncul di pikiran kita, tapi hey..... ada kata ‘mimpi’ di dalam kata pemimpin. Bagi kita yang bahkan tak berani memimpikan menjadi pemimpin, lantas bagaimana ketika itu menjadi sebuah keharusan? Misalnya ditunjuk secara paksa.

  Kembali ke soal menyelam, persiapan yang harus dilakukan tidaklah banyak, hanya mental yang mantap, jadikan sebagai kebutuhan, maka secara otomatis akan terlihat jalan. Jalan yang muncul pasti tak hanya satu, maka kita dapat memilih. Memilih untuk tidak menjalani satupun juga bisa, dan tentu itu tak akan menjadikan kita penyelam.

  “Apa iya semudah itu? Hanya perlu menjadikan kebutuhan dan persiapan mental?” anggap saja ini masalah sepele, dan baiknya dicoba dahulu untuk memantapkan mental. Karena kenyataannya tak akan semudah di pikiran, mengapa? Tentu saja karena ini merupakan hal besar. Hal kecil seperti memilih membeli sepatu olah raga atau casual saja bisa memerlukan pemantapan mental, dan setelah kita yakin mantap pun bisa berubah dengan mendengar kata-kata dari seorang teman. Bagaimana dengan hal yang besar? Kata-kata “kamu ga bakalan bisa deh.....” akan terdengar begitu menyakiti telinga dan memanaskan dada. Lalu apakah ini masih bisa dianggap mudah?

  Kita begitu sombong sehingga bertanya “bagaimana agar tidak menyelam terlalu dalam?” sedangkan untuk melompat ke dalam air saja belum berani. Kita terlalu angkuh sehingga menganggap diri bisa menyentuh dasarnya sedangkan tubuh masih menggunakan piyama dan terbungkus kantong tidur. Kita akan menyelam kawan, buka bajumu!

“Nah.... kita kan akan menyelam, lalu bagaimana jika kita tenggelam?”

kalau bisa tenggelam malah bagus, karena kita tenggelam dalam kebenaran.

“lalu kalau kita mati karena tenggelam bagaimana?”

Setidaknya kita mati dalam lautan kebenaran.

Lantas apa lagi yang harus kita takutkan?

Ayo menyelam!



Senin, 26 September 2016 @KontrakanDeresan_RuangTamu

02.06 am

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...