Tidak membuat status di media
sosial merupakan sesuatu yang tak wajar di era ini. Sejak kapan itu terjadi?
Sedangkan dahulu tak pernah menjadi masalah baik ada status maupun tidak.
Apakah ini juga penyebab orang-orang sibuk mencari status di masyarakat atau
dengan lawan jenisnya?
“Mayoritas melakukannya, lalu mengapa saya tidak?”
“Seolah apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang adalah hal
yang benar, padahal belum tentu salah.” Mungkin itu yang dikatakan Cak Lontong
dalam leluconnya. Memang betul bahwa itu belum tentu salah, dan belum tentu
benar pula.
Media sosial tidak lagi menjadi
tempat bersosial. Apa itu media sosial? Mengapa begitu tenar? Mengapa menjadi
kebutuhan?
Hidup ini adalah media sosial
yang sangat kompleks, kita adalah makhluk sosial bukan? Dalam hidup, kita harus
bersosial. Hidup bukan sepenuhnya untuk sosial, sama seperti media sosial yang
bisa digunakan untuk hal lain selain sosial.
Sejak kemunculan media sosial
yang meniru media sosial buatan Tuhan, kecintaan orang-orang pada dirinya
sendiri meningkat. Apakah salah mencintai diri sendiri? Tidak, tentu saja
tidak..... hanya saja kita sering bingung membedakan antara mencintai diri
sendiri dengan membenci orang lain.
Kecintaan tak pernah salah, dan
ingatlah bahwa cinta dapat menimbulkan kecemburuan. Ketika kita cemburu pada
orang lain, kita ingin lebih dari mereka, dan sebagainya dan sebagainya.....
Mari memulai dari diri sendiri,
dengan mencintai diri sendiri tanpa peduli orang lain. Tanpa peduli orang lain
di sini adalah tidak merasa iri pada yang orang lain lakukan, bukankah kita
cinta pada diri kita sendiri? Lantas mengapa harus cemburu pada orang lain?
Cemburulah pada diri sendiri, cemburu pada diri kita yang kemarin. “Mengapa
kemarin aku lebih sabar dari sekarang?” misalnya..... maka kita termotivasi
untuk jadi lebih sabar hari ini.
Ada banyak hal yang dapat kita
cemburui dari diri kita yang telah lalu, maka ada banyak motivasi yang dapat
kita jadikan alasan berbenah diri. Kita ingat pada kemampuan yang lalu, kita ingat
pada ketulusan yang lalu, kita ingat cara kita memerlakukan diri saat yang
lalu. Namun semua telah berlalu, kini hanya kenangan, bukan begitu? Karena
menyesal tak ada gunanya jika kita habiskan sisa hidup dengan menyesal, maka
menyesal yang kita lakukan hanya beberapa detik. Kalau kita tak pernah tahu
berapa detik lagi sisa hidup kita, maka kita perlu move on sekarang juga.
Melompat dari penyesalan, kembali
ke sosial media buatan manusia. “Bagaimana jika kita menggunakannya untuk
hal-hal positif? Misalnya dengan status-status motivasi?” itu juga bagus,
motivasi diri sendiri dengan kata-kata positif yang kini dibagikan kepada
khalayak ramai. Itu dapat mengundang kawan kita untuk melakukan hal yang sama,
mungkin saja ia berpikir “kalau si Telik bisa, mengapa saya tidak? Kan setiap
orang punya kata-kata motivasinya sendiri” mulailah muncul orang-orang positif.
Dengan membaca status positif,
kita juga akan positif. Maka kita juga perlu memilih apa-apa yang kita baca,
apa-apa yang kita lihat, apa-apa yang kita tonton, sama halnya dengan kita
memilih apa-apa yang kita makan. Semuanya karena kita ingin sehat, seperti
halnya makanan untuk fisik yang sehat, maka tontonan dan bacaan untuk pikiran
yang sehat. Setelah membaca, kita dapat menulis untuk menuangkan pemahaman
terhadap bacaan, entah dalam kolom komentar atau catatan sendiri.
Ingat untuk tetap berdasarkan
cinta,
Agar kita selalu positif seperti
proton,
Agar kita selalu kasih seperti
Ibu,
Agar kita selalu menjadi diri
kita sendiri.
Senin, 26 September 2016
09.30 am @PerpusUNY_LT2
Tulisannya mantapp!!
BalasHapusAyo nulis lagi Dan, aku juga baru nyoba aktif lagi. :D
HapusAku udah share. Udah baca juga. Ya gaya bahasamu bolehlah mas. Dibuat novel. Terbitin sendiri.
HapusWaduh..... terimakasih banyak, semoga bermanfaat.....
Hapus