Langsung ke konten utama

Receh

“Receh” saat ini menjadi istilah yang digunakan untuk mewakilkan sesuatu yang tak terlalu berharga. Mulai dari lelucon yang terlalu pasaran, selera humor rendah, hingga permintaan maaf jika uang yang digunakan untuk berbelanja adalah receh. Mengapa receh dianggap sebegitu rendahnya hingga yang jatuh di jalan sering kali tak dihiraukan?
Material yang digunakan untuk membuat uang keping dewasa ini memang tak seberharga uang logam zaman dahulu yang merupakan logam mulia. Ini mungkin merupakan penyebab betapa recehnya uang logam saat ini. Meski demikian, uang kertas yang beredar tentu tak lebih berharga daripada uang logam jika dihitung berdasarkan materialnya. Selembar uang seratus ribu Rupiah jika dibakar hanya akan menjadi abu, sedangkan sekeping uang seratus Rupiah jika dibakar (dilebur) tetaplah merupakan logam, yang sudah tentu memiliki nilai jual lebih tinggi daripada abu sisa pembakaran selembar seratus ribu tadi.
Uang kertas konon berawal dari surat tanda kepemilikan logam mulia yang bertujuan memudahkan transaksi dan meningkatkan keamanan. Seiring berjalannya waktu dan kecurangan pemilik brankas penyimpanan (bank), terjadilah penggandaan surat tanda kepemilikan tersebut. Sekeping emas sejuta surat. Hal ini yang menjadi penyebab betapa tak berharganya uang saat ini. Uang yang beredar kebanyakan palsu, sebab logam mulianya semu.
Tukar-menukar barang dengan logam dan menyimpan kekayaan dalam bentuk logam sepertinya terdengar cukup kuno di era yang serba dijital ini. Uang sudah bisa dimasukkan ke dalam kartu dalam bentuk saldo. Dapat dikirim secepat kilat, dihitung dengan lebih akurat, hingga bank mulai kehilangan manfaat. Saldo sepertinya sulit untuk dibayangkan wujudnya. Bagaimana jika ada ahli pemrograman komputer yang meretas sistem saldonya hingga menjadi tak terhingga? Mungkin itulah yang dilakukan para penambang bitcoin, menambang emas dijital.
Penekun industri kreatif tak mau kalah. Mereka punya cara untuk menghasilkan uang dari dunia maya juga. Berawal dari coba-coba menebar lelucon receh hingga ada yang menyuntikkan saldo ke dalam tabungannya, yang tentunya bukan receh. Ini bukanlah hal keliru sebab urusan seni adalah urusan selera, dan urusan selera tak dapat disalahkan. Banyak orang yang suka receh. Selama pembeli masih ada, penjual dapat terus menjajakan dagangannya. Meneriaki penebar lelucon receh dengan kata-kata “tidak mendidik”, “pasaran”, “basi”, “tidak bermutu” dan segala macam cemoohan sepertinya tidak lebih baik dari lelucon receh itu sendiri. Sereceh-receh sebuah lelucon, tetaplah ia merupakan karya, namun komentar sering kali hanya sebuah omong besar.

@Bjong
20 Pebruari 2019
10:42 PM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...