Langsung ke konten utama

Amatir

Kawanku menulis lagi, kali ini tentang “Penulis amatir”. Lebih tepatnya dia menulis tentang perdebatan dengan temannya sebab temannya berkata kurang lebih “penulis yang mengandalkan suasana adalah penulis amatir”. Membaca tulisan kawanku itu membuatku berpikir “Apa iya demikian? Mari kita cek!”

Menulis dalam suasana yang baik memang sangat baik, maka tak jarang penulis mencari tempat yang mendukung suasana hati menjadi baik. Menulis dalam suasana hati yang baik cenderung akan menghasilkan karya tulis yang baik, setidaknya untuk diri sendiri. Suasana mendukung tersebut lebih mudah di dapat di tempat yang “cocok” dengan si penulis, maka banyak penulis yang memilih berada di tempat cocok tersebut sewaktu menulis. Wira Nagara melakukannya, bahkan Sang Manyar Rama Mangun Wijawa (Alm) juga melakukannya. Lalu apa salahnya? Dan apakah mereka termasuk amatir?

Dalam buku “Berpikir dan Berjiwa Besar” karya David J. Schwartz, dijelaskan tentang “Lakukan saja dulu!” yang mengarahkan ke pembentukan suasana hati. Melangkah membuat kita berani, menulis meskipun sedang tidak mood akan mendatangkan inspirasi. Kurang lebih sama seperti yang dikatakan Gobind Vashdev tentang “Body and Mind” bahwa gerak tubuh berpengaruh pada pikiran. Kita sulit untuk mengingat hal-hal yang membahagiakan ketika kita duduk dengan posisi terpuruk dan wajah murung. Sama sulitnya dengan mengingat hal yang menyedihkan sementara kita sedang berdiri membuka pelukan dengan wajah tersenyum lebar. Lalu aku terpikir tentang kawanku yang lainnya yang mengaku penganut kedamaian namun bicaranya kasar. Mana mungkin dia merasa damai ketika berteriak ke sana kemari dengan tangan terkepal dan wajah cemberut? Meskipun yang diteriakkan adalah “Tuhan Maha Besar”.

Bergerak memang memberikan kita energi untuk bergerak lebih. Seorang kawanku yang bernama Acil pernah berkata kurang lebih “Diam adalah menyimpan energi potensial, seperti halnya bak penampung air. Potensinya ada namun tidak digunakan. Maka buka kerannya”. Jadi memaksakan menulis meskipun tidak sedang dalam keadaan yang mendukung, sering kali hanya untuk memantik pikiran agar kerannya terbuka. Ujung-ujungnya suasana hati menjadi kondusif untuk menulis, inspirari datang. Lalu apa bedanya dengan yang memilih berada di tempat “cocok” tadi? Toh sama-sama mencari suasana hati yang pas.

Kembali ke kawanku yang “menulis lagi”, dia justru hanya sekadar merespon suasana baik yang sedang dihadapinya, bukan mencari-cari suasana supaya bisa menulis. Lalu, di mana letak amatirnya? Kan sayang jika suasan mendukung tidak dimanfaatkan? Mungkin dia bukan amatir, hanya saja tidak menjadikan kegiatan menulis sebagai profesi. Maka kurasa lebih tepat disebut sebagai “Tidak profesional”. “Tidak profesional” tidak selalu “amatir”.

 

 

Omah Peace
13 Desember 2020
09.51 AM

Komentar

  1. Tulisan yang kubalas:

    https://amorenarium.blogspot.com/2020/12/memaksa-kehadiran-imajinasi.html

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...