Kasih, kapan lagi kita berbincang mengenai hal-hal yang tak penting bagi sebagian besar orang? Mengobrol tentang suara kentut yang merdu, retsleting celana macet, upil yang tak kunjung mau keluar atau aroma pencetan komedo misalnya. Kurasa kita terlalu menggebu mengejar target-target yang entah untuk apa kita mengejarnya, dan untuk siapa kita memimpikannya. Hal-hal semacam membahagiakan orang tua, membuat leluhur bangga, membungkam mulut tetangga, menjadi lebih beruang daripada om dan tante, sejatinya itu semua bukan urusan kita. Kau tahu itu namun masih juga tak mau berhenti.
Terlalu banyak
hal penting yang ingin segera kau capai, terlalu penuh otak kita dengan hal-hal
yang menjanjikan kebahagiaan. Ujung-ujungnya yang kau lakukan hanyalah
memamerkan hal yang menarik saja, tak mau kalah epik dibanding mereka, tak
boleh terlambat mengikuti apa yang sedang hangat dibicarakan. Sebegitu
pentingkah dunia luar bagimu? Lebih pentingkah dari dirimu sendiri?
Sempatkah
engkau merenungkan hal apa yang kau syukuri hari ini? Mampukah matamu melihat
perbaikan kecil yang kaulakukan? Adakah waktu yang kau sediakan untuk sekadar
berkata “terimakasih” pada diri? Berhentilah sejenak, sebab terlalu mengejar sesuatu
menyebabkan detik ini tak terasa enak. Apa yang dipatokkan orang lain padamu
mungkin saja baik, tapi pastikan dirimu setuju akan hal itu, bukan sekadar
ikut-ikutan. Meniru adalah sifat alami manusia, namun dalam meniru pun perlu
adaptasi sehingga kita menjadi peniru yang istimewa.
Hidup dalam
kompetisi tak akan pernah membuatmu mencapai bahagia. Janji yang ditawarkan
iklan dan sesumbar orang-orang di media hanyalah isapan jempol belaka. Kau
butuh kewarasan di tengah dunia yang mendukungmu untuk menjadi gila. Jika
mereka meninggalkanmu karena kau tak ikutan gila, tenang saja..... kehilangan
mereka bukanlah masalah selama kau punya dirimu sendiri.
@Omah Peace
14 Juli 2021
09.42 PM
January 11th, 2022
BalasHapus