Seorang kawan bertanya "Bli, menurutmu apakah ada orang yang benar-benar minta tolong?" Kami terdiam sejenak sebelum dia melanjutkan "maksudku, sepertinya minta tolong itu hanyalah sebuah selubung. Sebenarnya ingin menyuruh, tetapi diperhalus dengan kata tolong". Aku yang sebelumnya juga pernah memikirkan hal yang serupa pun menjawab bahwa memang ada "minta tolong manipulatif".
Orang yang benar-benar minta tolong tidak akan marah jika permintaannya tidak dipenuhi, namun peminta tolong manipulatif iya. Kata-kata semacam "aku sudah minta tolong baik-baik lho" adalah todongan. Maka dapat dipastikan bahwa permintaan tolongnya bukanlah permintaan, melainkan perintah.
Kawanku menjelaskan lagi bahwa orang yang tidak menodong pun punya tendensi memerintah. Lagi-lagi dia mengatakan bahwa "tolong" hanyalah untuk memperhalus saja. Ada perhitungan bahwa orang yang dimintai tolong akan menolongnya, jadi itu sebenarnya adalah perintah.
"Karena itu Bli, aku ga pernah minta tolong pada pacarku. Kalau dia tidak mau disuruh, ya sudah. Aku tidak akan memperhalus suruhanku dengan kata tolong" katanya kurang lebih. Mendengar hal itu, aku teringat pertama kali pemikiran tentang "minta tolong manipulatif" muncul setelah beberapa kali melihat orang yang meminta tolong pada orang dekatnya. Kasus ini sangat sering terjadi pada keluarga.
Aku pernah melihat seorang suami meminta tolong pada istrinya, yang ketika istrinya tidak menuruti permintaannya, si suami mulai mengatai istrinya "durhaka". Ada juga orang tua yang meminta tolong pada anaknya, yang mana anak menuruti permintaan itu dengan wajah masam dan semacam ada kata-kata "kalau aku tidak mau, nanti kau marah padaku" di dalam kepalanya. Kakak adik? Paling sering kutemui. Kakak yang merasa punya otoritas dan suka menyuruh-nyuruh adiknya akan menggunakan kata "tolong" ketika sedang di depan orang tuanya, yang mana sudah dapat dipastikan manipulasinya.
"Nah itu Bli! Aku tidak pernah minta tolong pada teman, apalagi menyuruh. Tapi pada orang terdekat seperti pacar, justru aku jadi sering nyuruh. Kok bisa ya?" kata kawanku. Kusampaikanlah materi tentang objektifikasi. Sebuah kementang-mentangan kedekatan, sehingga kita merasa memiliki orang tersebut. Rasa kepemilikan, sering kali membuat kita seenak jidat untuk memperlakukan segala sesuatu.
Buang-buang makanan sering kali terjadi dengan alasan "aku beli pakai uangku kok!". Industrialisasi hewan juga sering kali dilandasi alasan "manusia diciptakan untuk berkuasa atas mereka". Kekerasan dalam rumah tangga, sering kali orang luar merasa tidak boleh ikut campur juga karena pemikiran kepemilikan itu. Apalagi sekadar minta tolong manipulatif.
Perbincangan kami tidak untuk mencapai kata sepakat. Kawanku masih tetap beranggapan bahwa tidak ada minta tolong yang tidak manipulatif. Aku tetap dengan pemikiran bahwa ada dua macam minta tolong, yaitu minta tolong yang memang karena butuh bantuan dan satu lagi minta tolong manipulatif.
Ciri dari minta tolong jenis pertama memang tidak dapat dipastikan, sebab ahli manipulasi bisa saja membuat permintaan tolongnya seolah memang karena butuh pertolongan. Tapi yang manipulatif pasti dapat kita kenali jika ada tanda-tanda berikut:
-Menggunakan nada tinggi, kata-kata kasar atau bentakan.
-Menggunakan otoritas (otoriter). "Aku kakakmu, kamu adikku. Adik harus nurut pada kakak" atau otoritas apapun yang sering kali tidak dikatakan secara gamblang.
-Membanding-bandingkan entah dengan orang lain yang lebih unggul dari kita, atau dengan pertolongan yang pernah dia berikan kepada kita. "Setelah semua yang kulakukan untukmu, ini balasanmu?" Yak, kata-kata itu sejatinya bukti bahwa dulu dia bukan melakukan untuk kita, tapi investasi untuk dirinya sendiri.
-Merengek, guling-guling, menggonggong (eh.... salah....)
-Mengeluh setelah ditolong. "Kok jadi gini sih?!" Yaaaa..... Setelah minta tolong dan ditolong bukannya berterimakasih, malah menyalahkan yang menolong. Padahal yang menolongnya adalah manusia, dan dia sendiri sedang tidak bisa (atau tidak mau) mengerjakan yang dimintakan tolong, tetapi tidak mau terima hasil secara apa adanya.
-Marah jika permintaan tolongnya tidak dituruti.
@Omah Peace
25 November 2021
11.14 am
Komentar
Posting Komentar