Beberapa kali aku mendapat nasihat bahwa aku seharusnya tidak melakukan segala hal secara impulsif. Katanya, perencanaan merupakan hal yang perlu. Tidak bisa segala sesuatu ditentukan dengan lonjakan emosi saja. Kurasa, nasihat itu ada benarnya. Mungkin malah sangat benar. Namun salah peletakannya, karena mereka menasehatiku yang saat itu sedang tidak impulsif sama sekali. Maksudku, apa landasan mereka menilai tindakanku sebagai impulsif? Biar kubahas sedikit tentang impulsivitas, setidaknya agar kita bisa menyamakan persepsi sebelum mengajukan klaim bahwa aku impulsif atau tidak.
Impulsif adalah keadaan di mana seseorang melakukan tindakan hanya didasari emosi, sehingga cenderung dapat tiba-tiba berubah, di luar rencana, tidak rasional ataupun tidak didukung alasan yang kuat. Tindakan impulsif terjadi karena ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi.
Memang ada kalanya aku tidak bisa mengendalikan emosiku, ada juga waktu di mana aku secara sengaja tidak mengendalikannya agar ia dapat lebih cepat berlalu. Tetapi tidak dengan kejadian yang mendasari nasehat mereka tentang impulsivitas. Semua tindakanku yang mereka komentari sangatlah rasional dan sudah kupikirkan secara matang.
Yang pertama akan kusebutkan adalah pernikahanku. Ada yang berkata kurang-lebih "kamu terlalu terburu-buru. Kurasa kalian belum siap"
Padahal aku dan pasanganku sudah menghitung alokasi dari tabungan kami, merencanakan tempat tinggal, menyepakati menunda berketurunan, mencari hari baik, meminta restu orang tua, sebelum akhirnya sah secara hukum negara dan agama. Dari semua itu, di mana letak tidak rasionalnya? Dari perencanaan yang meskipun waktunya singkat, tidak ada perubahan jadwal sama sekali. Di mana letak tiba-tiba berubahnya? Atau, di mana letak di luar rencananya? Lantas si penasehat dengan mudahnya mengatakanku impulsif.
Meskipun kami memang tidak seratus persen siap untuk memasuki jenjang pernikahan, namun bukan berarti bisa dikatakan belum siap. Jika kubalik tanya, "siapa yang benar-benar siap untuk menikah?" Mungkin si penasehat juga tidak bisa menjawab. Bagiku 60 persen sudahlah cukup untuk melangkah ke pernikahan, karena 100 persen hampir mustahil.
Kejadian lainnya yang membuatku dinasehati adalah menginap di pantai sendirian. Memang hari itu moodku sedang berantakan, namun bukan berarti penalaranku buntu. Cuaca sedang cerah, angin laut tidak terlalu kencang, tempatku menginap berada di tebing yang tingginya lebih dari 100m sehingga kalaupun terjadi tsunami, aku tidak akan mati sendirian. Tidak perlu waktu 5 menit untuk menghitung semua rasio itu, lalu aku pun memutuskan menginap sendirian, dan dianggap impulsif. Justru alasan yang mereka ajukan yang menurutku perlu dipertanyakan. Mereka menyebut Ratu Kidul akan menculikku, lalu ada juga omongan tentang kuntilanak, orang meninggal di pantai yang jasadnya tidak ditemukan, arwah gentayangan. Menurutku, jika aku datang tidak untuk mengganggu sosok-sosok tersebut, aku yakin mereka juga tidak akan menghiraukanku (jika mereka memang ada di situ). Jadi siapa sebenarnya yang tidak rasional di sini?
Jarang sekali aku membuat plan B, paling sering hanya A, A+ dan A- yang mungkin saja membuatku menjadi orang yang dipandang strict. Aku tak suka kalau rencanaku terganggu, maka sering kali kuperhitungkan juga faktor-faktor penghambatnya, apa yang dapat menjadi jalan tikus menuju rencana awal, ataupun peluang untuk menjadikan penghambat itu sebagai batu loncatan. Maka rencana B hampir tidak diperlukan. A saja sudah cukup, namun persiapkan perkakas agar itu A tercapai.
Jadi, biar kutulis di sini sebagai pengingat diri suatu hari nanti.
Hanya karena seorang sedang emosi, bukan berarti keputusannya tidak menggunakan rasio.
Tidak semua orang suka membeberkan rencana yang sudah dia buat di dalam kepalanya.
Mungkin juga, kamu tidak sepenting itu untuk tahu.
Satu lagi...
mungkin saja rasio kalian berbeda.
@MotorHouse
03.03 pm
23 Januari 2023
Komentar
Posting Komentar