Langsung ke konten utama

Usaba Dalem

Yang paling melelahkan dari proses berpikir dan mungkin juga merupakan yang paling tidak berguna, adalah memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang diri kita. Mengapa melelahkan? Sebab prosesnya terjadi setidaknya dua kali. Pertama kita berpikir dengan pikiran kita sendiri, ke dua kita memikirkan pikiran orang lain. Lalu mengapa tidak berguna? Karena apa yang kita pikirkan tentang yang ada di pikiran orang lain hanyalah asumsi. Pikiran kita tentang diri sendiri pun, sering kali hanya asumsi dan cocoklogi. Lantas bagaimana dengan pikiran tentang "yang orang lain pikirkan terhadap kita"? Bukankah itu lebih konyol lagi?


Mungkin saja hal tersebut hanyalah kebiasaan alam bawah sadar kita karena malas untuk berproses mengenal diri. Ketidakmauan untuk mencari ke dalam menyebabkan kita melakukan klaim ke luar. Beranggapan bahwa orang ini berpikiran buruk padaku, orang itu tidak menerimaku. Apakah kita sudah pernah benar-benar melakukan konfirmasi dengan yang bersangkutan sehingga berhak menyimpulkan? Jika belum, maka coba lakukan.


Beberapa orang mengelak untuk melakukan konfirmasi dengan dalih "sudah terlihat dari ekspresinya". Memang, yang namanya bahasa bukan hanyalah yang berbentuk kata-kata saja, namun sebelum hal itu benar-benar diucapkan, ada baiknya kita berpikir netral saja. Mengapa berpikir netral? Sebab ekspresi sering kali muncul secara tidak sengaja, sementara kata-kata harus keluar dengan upaya. Jika kita hanya menilai berdasarkan ekspresi, bisa jadi orang tersebut tidak bermaksud menunjukkan ekspresi itu. Akan sangat berbeda dengan kata-kata. Mungkin itulah mengapa dalam beberapa ajaran agama: niat harus diucapkan.


Pun jika kita dapat menebak dengan tepat apa yang ada di pikiran orang lain, apakah hal itu berguna bagi kita? Jika iya, silakan lanjutkan. Namun jika itu justru membuat kita semakin tidak baik, entah itu tidak percaya diri, kurang luwes dalam melangkah, enggan bergaul, menyalahkan diri sendiri, maka mengapa kita harus menebak? Dalam kasus ini siapa yang berperilaku buruk pada diri kita? Apakah mereka? Saya rasa tidak, sebab mereka bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun. Tetapi kita! Ya! Kita yang memberi afirmasi negatif terhadap diri sendiri dengan percaya bahwa orang-orang berpikiran buruk akan diri kita.


Maka kembalikan ke diri sendiri. Energi yang kita gunakan untuk memikirkan "apa yang orang lain pikirkan terhadapku" akan lebih berguna jika digunakan untuk memikirkan "apa yang kupikirkan tentangku". Apa kualitas yang kita percaya sebagai milik kita? Apa guna yang dapat kita berikan pada dunia? Apa hal yang kita senangi dari diri sendiri? Apa hal-hal yang tidak pantas saya lakukan? Apa hal-hal yang ingin saya capai? Apa langkah-langkah untuk mencapai rencana itu?


Mulailah ke dalam! Memikirkan apa yang ada di luar terlalu melelahkan dan hampir tidak ada gunanya.


22 April 2023

09.50 PM

@Rumah Ulakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...