Yang paling melelahkan dari proses berpikir dan mungkin juga merupakan yang paling tidak berguna, adalah memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang diri kita. Mengapa melelahkan? Sebab prosesnya terjadi setidaknya dua kali. Pertama kita berpikir dengan pikiran kita sendiri, ke dua kita memikirkan pikiran orang lain. Lalu mengapa tidak berguna? Karena apa yang kita pikirkan tentang yang ada di pikiran orang lain hanyalah asumsi. Pikiran kita tentang diri sendiri pun, sering kali hanya asumsi dan cocoklogi. Lantas bagaimana dengan pikiran tentang "yang orang lain pikirkan terhadap kita"? Bukankah itu lebih konyol lagi?
Mungkin saja hal tersebut hanyalah kebiasaan alam bawah sadar kita karena malas untuk berproses mengenal diri. Ketidakmauan untuk mencari ke dalam menyebabkan kita melakukan klaim ke luar. Beranggapan bahwa orang ini berpikiran buruk padaku, orang itu tidak menerimaku. Apakah kita sudah pernah benar-benar melakukan konfirmasi dengan yang bersangkutan sehingga berhak menyimpulkan? Jika belum, maka coba lakukan.
Beberapa orang mengelak untuk melakukan konfirmasi dengan dalih "sudah terlihat dari ekspresinya". Memang, yang namanya bahasa bukan hanyalah yang berbentuk kata-kata saja, namun sebelum hal itu benar-benar diucapkan, ada baiknya kita berpikir netral saja. Mengapa berpikir netral? Sebab ekspresi sering kali muncul secara tidak sengaja, sementara kata-kata harus keluar dengan upaya. Jika kita hanya menilai berdasarkan ekspresi, bisa jadi orang tersebut tidak bermaksud menunjukkan ekspresi itu. Akan sangat berbeda dengan kata-kata. Mungkin itulah mengapa dalam beberapa ajaran agama: niat harus diucapkan.
Pun jika kita dapat menebak dengan tepat apa yang ada di pikiran orang lain, apakah hal itu berguna bagi kita? Jika iya, silakan lanjutkan. Namun jika itu justru membuat kita semakin tidak baik, entah itu tidak percaya diri, kurang luwes dalam melangkah, enggan bergaul, menyalahkan diri sendiri, maka mengapa kita harus menebak? Dalam kasus ini siapa yang berperilaku buruk pada diri kita? Apakah mereka? Saya rasa tidak, sebab mereka bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun. Tetapi kita! Ya! Kita yang memberi afirmasi negatif terhadap diri sendiri dengan percaya bahwa orang-orang berpikiran buruk akan diri kita.
Maka kembalikan ke diri sendiri. Energi yang kita gunakan untuk memikirkan "apa yang orang lain pikirkan terhadapku" akan lebih berguna jika digunakan untuk memikirkan "apa yang kupikirkan tentangku". Apa kualitas yang kita percaya sebagai milik kita? Apa guna yang dapat kita berikan pada dunia? Apa hal yang kita senangi dari diri sendiri? Apa hal-hal yang tidak pantas saya lakukan? Apa hal-hal yang ingin saya capai? Apa langkah-langkah untuk mencapai rencana itu?
Mulailah ke dalam! Memikirkan apa yang ada di luar terlalu melelahkan dan hampir tidak ada gunanya.
22 April 2023
09.50 PM
@Rumah Ulakan
Komentar
Posting Komentar