Langsung ke konten utama

Gelombang Cinta

Tanggal 4 Juni kemarin aku berkebun dengan Pak Bono, di perjalanan menuju kebun dia menanyakan sesuatu kepadaku. Pertanyaan yang diajukan sebenarnya sangat sering kudapatkan, namun aku tak pernah ambil pusing. Tetapi kali ini berbeda, sebab yang bertanya padaku adalah Pak Bono. Pertanyaannya “Bepergian tanpa alas kaki, apa tak membuatmu menjadi pusat perhatian?”

Akupun mulai mencari rujukan yang tersimpan di dalam otak logikaku, beberapa sudah berdebu saking lamanya tak kugunakan. Pertama kubahas yang namanya spotlight effect alias “efek lampu sorot”, yaitu keadaan di mana kita merasa orang-orang memperhatikan kita, memandangi kita atau bahkan membicarakan kita. Hal ini biasa terjadi pada orang yang sedang tidak percaya diri akan penampilannya, atau orang yang sangat percaya diri akan penampilannya. Contoh yang paling kusukai adalah orang yang baru potong rambut. Efek lampu sorotlah yang membuat banyak perempuan mesam-mesem ketika habis potong rambut, sebab menurutnya orang-orang melihatnya, menyukai gaya rambutnya dan seterusnya dan seterusnya. Namun ketika pasangannya tak menyadari bahwa ada perubahan di rambut perempuan itu, di situ sebenarnya terungkap fakta bahwa spotlight itu tidak pernah ada, dengan kata lain: lampu sorot itu hanya ada di dalam kepalamu sayang…..

Apakah hanya perempuan yang mengalaminya? Bagaimana dengan laki-laki? Kurasa sama saja. Ketika laki-laki baru selesai memangkas rambutnya di barbershop biasanya mereka merasa tampan, namun akan segera merasa bahwa dirinya tak setampan itu ketika bercermin di rumah. Biar kusampaikan satu fakta tentang cermin barbershop. Cermin barbershop merupakan cermin yang tanpa noda, maka siapapun yang bercermin di situ akan merasa dirinya lebih goodlooking dari biasanya. Ada juga teman yang menjuluki cermin barbershop sebagai “cermin jahat”. Bagaimana dengan cermin di rumah yang cuma dilap pakai kapas bekas membersihkan wajah? Tentu tak akan sebening si cermin jahat bukan? Maka efek lampu sorot bisa langsung hilang ketika bercermin di situ.

Saat dengan Pak Bono aku tak membahas sebanyak itu, sebab kujelaskan sedikit saja sudah membuatnya paham. Mungkin karena kami punya banyak referensi yang sama, atau mungkin juga karena dia memiliki pengalaman yang mengena. Berselang beberapa detik setelah aku mengatakan “nobody really care about us”, sembari menanti lampu merah bertukar shift dengan lampu hijau, seorang Bapak-bapak menyapa kami dengan pertanyaan ”ga sendalan Mas?”. Kontan saja Pak Bono memandangku dengan tatapan “tuh kan…. gua bilang juga apa?!”

Efek lampu sorot memang bisa membuat kita benar-benar menjadi pusat perhatian, sebab ketika mengalaminya, kita jadi berperilaku tidak seperti biasa sehingga orang sekitar akan melihat kita dengan cara yang berbeda. Semacam “nih orang kenapa sih? Aneh banget”, entah karena kita risih dengan diri sendiri atau karena terlalu percaya diri sehingga mulai menjadi pick-me. Pola pikir “aduh…. gweh cakep banget hari ini sumpah…..” atau “kaus kakiku kendor nih, orang-orang pasti ngeliatin aku” akan berpengaruh terhadap sikap dan juga pikiran kita.

“Ohhh….. Jadi yang barusan itu, terjadi karena kita kepikiran ya?” tanya Pak Bono, kemudian melanjutkan dengan “tapi jarang banget lho… aku ngalamin kejadian kaya barusan itu. Orang ga dikenal, waktunya juga singkat”. “kalau aku sering sih” jawabku yang sontak membuat Pak Bono menjawab “Berarti spotlightnya ada di kamu!”. “Berarti aku se-pick-me itu ya?” jawabku dan kami pun tertawa. Kemudian kujelaskan bahwa aku sering memulai perbincangan di pertemuan singkat. entah di kereta api, di bus, dengan Abang Ojol, di manapun… sekadar basa-basi untuk mewarnai hari. Lalu kulanjutkan dengan materi tentang hukum tarik-menarik.

Bahasan tentang hukum tarik-menarik yang paling mutakhir, menjelaskan bahwa pikiran merupakan gelombang elektromagnetis. Bicara gelombang adalah bicara soal pasang-surut, maka akan selalu berkaitan dengan naik dan turun. Satu gelombang yang disepakati dalam ilmu fisika adalah mulai dari netral, kemudian satu kali naik (puncak) dan satu kali turun (palung), lalu kembali lagi ke netral. Untuk mencapai satu gelombang dibutuhkan waktu, dan jumlah gelombang dalam satu satuan waktu dikenal dengan istilah “frekuensi”. Frekuensi itulah yang kemudian dipancarkan dan ditangkap dengan antena, nama pasarnya adalah “sinyal”. Cara kerja antena ternyata meniru cara kerja otak, bahkan otak kita merupakan antena dwifungsi, yaitu berfungsi sebagai pemancar sekaligus penerima sinyal.

Setiap pemikiran dan juga perasaan memiliki tingkat kerapatan yang berbeda, alias memilki frekuensi tersendiri. Cinta masuk ke dalam kategori perasaan befrekuensi tinggi, sementara kesedihan merupakan perasaan dengan frekuensi rendah. Mengingat bahwa antena hanya bisa menangkap sinyal yang serupa, maka menjadi jelas mengapa tidak disarankan menjadlin cinta dengan orang yang baru saja putus cinta. Otak orang yang baru putus cinta cenderung memancarkan dan menerima sinyal kesedihan, maka cinta yang kita berikan tidak akan diterima dengan baik olehnya. Memancarkan cinta kepadanya mungkin oke-oke saja sebab itu bisa menjadi dukungan agar dia mengubah sinyalnya, tapi untuk menjalin cinta sepertinya lebih baik tunggu sampai dia mengkalibrasi ulang frekuensinya. Hal ini juga mengarah kepada jawaban dari pertanyaan “Mengapa saat aku jomblo, tidak ada satupun orang yang mendekat? Tetapi ketika aku mulai PDKT dengan satu orang, kok banyak orang yang mbribik aku?”.

Pancaran gelombang akan memantul ketika mengenai sesuatu, dan suatu ketika pasti kembali kepada si pemancar. Inilah mengapa otak menjadi pemeran utama dalam hukum tarik-menarik. “Aku berpikir maka aku ada” kata Descrates, “Apa yang kau tabur, itu yang kau tuai” kata Yesus, “Karma-Phala” kata Veda India, “Aksi-Reaksi” kata Fisika. Ketika kita memikirkan sesuatu tentang diri kita, orang yang memiliki pemikiran sama akan menerima sinyal itu kemudian mengembalikannya kepada kita dengan intensitas yang lebih kuat. Maka kita harus berhati-hati ketika mengafirmasi diri, sebab ia akan menyebar ke segala arah dan kembali kepada kita dalam bentuk sugesti dari orang lain.

“Getaran pikiran ya? Bisa jadi sih…” kata Pak Bono sejenak sebelum kami tiba di SPBU. “Dari nol ya Mas” kata Mba petugas SPBU yang membuat sebuah ide melejit di pikiranku. “Dari Maguwo Mba” bisikku pada Pak Bono, dan dia meneruskan kata-kataku kepada Mba petugas SPBU itu. “Dari Maguwo Mba” kata Pak Bono, si Mba masih belum paham sampai kemudian Pak Bono memperjelas “Kami dari Maguwo Mba, bukan dari nol” yang akhirnya membuat Mba itu tertawa. Yaaaa….. sekadar basa-basi untuk mewarnai hari. Berawal dari Pak Bono yang bertanya padaku, getarnya ditangkap oleh Bapak-bapak di lampu rambu, diperkuat oleh keyakinan dan teori-teoriku, berujung kepada lelucon di SPBU.

 

@MHI

27 Juni 2023

04.18 pm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...