Langsung ke konten utama

Puji Tuhan

Seseorang yang baru kukenal bertanya padaku tentang agama yang kuanut. Aku menjawab pertanyaannya dengan “Puji Tuhan, saya Hindu”, yang kontan mengubah raut wajahnya dari ekpresi perbincangan basa-basi menjadi wajah penasaran. Ekspresi tersebut disusul dengan pertanyaan lanjutan yaitu “Hindu? Kok pakai ‘puji Tuhan’? Campuran ya?”. Sesuai dugaan dan rencanaku, tanggapannya benar-benar persis. Aku menyempatkan diri untuk tertawa sinis sebelum menjawab pertanyaanya, kemudian kuawali jawabanku dengan kata “Inilah permasalahan di Negara kita” yang kemudian kujelaskan tentang betapa orang kita mengaitkan agama dengan bahasa. Kata “Puji Tuhan” seolah adalah bahasa Nasrani, kata “Alhamdulillah” seolah merupakan bahasa Islam, lalu apakah orang Hindu harus menyebut bahasa Sansekerta sebagai bahasa Hindu? Memang tak jarang orang Hindu yang menyebut kata “Astungkara” sebagai bahasa Hindu.
Perlombaan telah dimulai yang entah dapat dimenangkan atau tidak, entah apa pula keuntungannya jika memenangkan perlombaan tersebut. Mungkin saja yang berlomba sebenarnya merupakan korban politisasi asing. Rajin menggunakan istilah asing, belajar bahasa asing mati-matian, menurunkan kadar penggunaan bahasanya sendiri, membantu pihak asing mengekspansi diri. Berawal dari melupakan bahasa sendiri, bahasa yang mana katanya merupakan ciri dari sebuah bangsa, kemudian menggantikannya dengan bahasa asing. Ketika ciri bahasanya telah berubah, ciri lain disuntikkan lagi, yaitu pakaiannya. Pakaian asing merajalela di negeri ini, pakaian aslinya dibuang dan dikutuk habis-habisan oleh yang seharusnya mewarisinya. Setelah bahasa dan pakaian, mulailah negara ini terancam berganti ideologi. Jika ideologi berhasil diganti, akan sangat mudah si asing penyuntik ciri tadi menjadikan negara ini sebagai negara bagiannya.


Apakah benar kita peduli pada negeri ini? Negeri kita yang kaya merupakan incaran para asing. Anggap saja aku rasis, namun sejak dahulu memang kita merupakan incaran mereka. Aku bukan anti orang asing, hanya anti mengasingkan diri di negeri sendiri. Aku lebih memilih menjadi terlihat asing di mata kawan-kawanku yang telah terbungkus budaya asing. Bukan juga benci budaya asing, aku justru tertarik untuk mempelajarinya. Hanya saja, pantaskah aku menggunakan budaya asing melebihi penggunaan budayaku sendiri?
Aku adalah orang Bali, lahir dan tumbuh besar di Bali. Ketika aku memijak tanah Jawa, aku harus beradaptasi dan belajar menggunakan budaya Jawa. Aku berbicara menggunakan bahasa Jawa ketika berbincang dengan kawanku yang asli orang Jawa, atau sesama pendatang yang bisa berbahasa Jawa. Apakah pantas jika pendatang sepertiku memaksakan penduduk asli untuk menggunakan bahasaku ketika berkomunikasi denganku? Bukankah lebih logis jika aku yang terpaksa menggunakan bahasa daerah yang kudatangi? Agama juga begitu. Ia datang dari luar, disampaikan kepada penduduk asli dengan bahasa penduduk, barulah agama itu dapat berpengaruh. Rupanya, setelah agama itu diterima oleh penduduk, pihak asing mulai mempolitisir dengan bahasa, atau mungkin pihak kita sendiri yang menyerahkan diri untuk dipolitisir?
Jika agama untuk manusia, mengapa ada manusia yang rela mati demi agama? Mengapa bukan agama yang bunuh diri demi manusianya?
Jika agama mengajarkan kedamaian, mengapa begitu banyak keributan yang terjadi atas nama agama? Bukankah seharusnya agama menjadi forum yang paling damai dan landasan untuk saling mendamaikan?
Di sebuah kedai kopi aku menemukan kedamaian setelah bertemu dengan seekor nabi bernama Manis. Ia naik ke pangkuanku, dengan tenangnya kemudian tidur di sana. Di atas meja ada sebuah kitab berjudul Pejalan Anarki, aku pun membacanya. Juru seduh pun datang membawakan secangkir yang kupesan, kemudian ia berkata “tak akan ada kejahatan di muka bumi ini jika manusia selalu sibuk dengan Kopi, Buku, dan Cinta”, yang mana membuatku berpikir bahwa seberapapun tingginya ilmu agama seseorang, masih kurang jika belum mampu merasakan Tuhan sebagai Cinta. Moga-moga kita sampai, semoga cita tergapai, serta mendapatkan izin dari Yang Maha Kuasa.

04 Januari 2019
02:58 AM
@Kost Santren

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...