Turunkan pandanganmu, sebab tak
semua orang memancarkan energi positif, jangan menatap sembarangan, tatapan
dapat menjadikan energi itu berpindah. Bisa saja energi tak baik itu berasal
darimu kepada mereka, juga mungkin sebaliknya. Intinya adalah menggunakan
energimu sendiri untuk dirimu sendiri. Bertahanlah dengan energi yang kau
punya, jika harus mengirimkan energi itu kepada orang lain, salurkan melalui
karya, jangan mengirimkan energi murni melalui tatapan atau pikiran. Lonjakan energi
dari pikiran dapat membuat seisi ruangan berubah getarannya. Lonjakan energi
berupa emosi, jadikanlah bahan bakar karya.
Karya yang
dibuat dengan emosi positif, bisa membangkitkan emosi positif penikmatnya,
meskipun semua bergantung pula pada keadaan si penikmat tatkala menikmati karya
tersebut. Karya yang dibuat dengan emosi negatif pun dapat membangkitkan hal
positif si penikmat, sebab itulah lebih baik mengalirkan emosi ke dalam karya. Sebarkan
karyamu yang positif, simpan yang negatif. Suatu ketika saat emosimu sedang
baik, lihat lagi karya negatifmu kemudian benahi jika bisa, balas dengan karya
baru jika tak bisa dibenahi.
Tertawakan
karyamu yang lama, meski itu tak lucu bagi orang lain, mungkin saja itu terlalu
menggelikan bagimu untuk tak ditertawakan. Banyak orang yang malah sampai
menghapus karyanya yang lama saking menggelikan karya itu baginya. Kau tak
perlu sampai menghapusnya, jadikan saja dokumentasi perkembangan diri, sudut
pandang setiap orang berubah setiap harinya, mungkin begitu pula dengan
kemampuan.
Mencintai berkarya
hingga kecanduan untuk berkarya akan jauh lebih baik untuk perkembangan dirimu
dibandingkan kecanduan yang lainnya – meskipun kecanduan yang terbaik adalah
kecanduan akan Tuhan – sebab hal ini membuatmu tetap produktif dan lebih positif.
Positif bukanlah puncak, positif hanyalah sebuah ekstrem, sama halnya dengan
negatif. Puncak diduduki oleh netral, tujuan terakhir adalah netral, namun jika
tak mampu untuk netral maka cukuplah menjadi positif saja dulu, sisi yang tak
terlalu buruk meskipun bukan puncak pula. Positif hanya merupakan “Titik aman
sementara” kata seorang kawan.
Positif
memerlukan negatif untuk menghasilkan pergerakan, sehingga negatif tak mungkin
dihapuskan, jika kecenderungan untuk berbuat negatif lebih besar dan berbuat
negatif begitu mudahnya dilakukan, mengapa perlu melakukannya? Bahkan tak perlu
perjuangan untuk menjadi negatif bukan? Berupayalah hal yang memang layak
diupayakan, berupayalah untuk jadi netral, jika tak mampu maka berupaya menjadi
positif saja, sebab negatif tak perlu upaya.
Menjadi diri
sendiri adalah menjadi netral, menjadi saksi atas diri sendiri hingga tak
terpaut pada susah-mudah, sedih-senang. Saksi bahkan tak punya keakuan dalam
sebuah kejadian, hanya melihat dan begitu saja, tidak berlaku dan juga tidak
menilai kejadian tersebut. Saksi ada di situ saat kejadian namun tak punya
andil di dalamnya.
Berupaya menjadi
saksi bukan berarti boleh sembarangan menggunakan matamu untuk melihat. Tetap turunkan
pandanganmu sebab kau belum sampai di tingkatan netral. Kau masih menilai, kau
masih menjadi pelaku atau setidaknya memosisikan diri sebagai korban dalam
kejadian. Maka dari itu, berlatihlah.
@TPSDP
Elektro UNY
10 Januari
2019
01:00 PM
Tapi kecanduan Tuhan pun ora apik, bisa menghilangkan kemanusiaan...
BalasHapusMungkin kuwi gur kecanduan ibadah 🤔
Hapus