Langsung ke konten utama

Turunkan Pandanganmu

Turunkan pandanganmu, sebab tak semua orang memancarkan energi positif, jangan menatap sembarangan, tatapan dapat menjadikan energi itu berpindah. Bisa saja energi tak baik itu berasal darimu kepada mereka, juga mungkin sebaliknya. Intinya adalah menggunakan energimu sendiri untuk dirimu sendiri. Bertahanlah dengan energi yang kau punya, jika harus mengirimkan energi itu kepada orang lain, salurkan melalui karya, jangan mengirimkan energi murni melalui tatapan atau pikiran. Lonjakan energi dari pikiran dapat membuat seisi ruangan berubah getarannya. Lonjakan energi berupa emosi, jadikanlah bahan bakar karya.
Karya yang dibuat dengan emosi positif, bisa membangkitkan emosi positif penikmatnya, meskipun semua bergantung pula pada keadaan si penikmat tatkala menikmati karya tersebut. Karya yang dibuat dengan emosi negatif pun dapat membangkitkan hal positif si penikmat, sebab itulah lebih baik mengalirkan emosi ke dalam karya. Sebarkan karyamu yang positif, simpan yang negatif. Suatu ketika saat emosimu sedang baik, lihat lagi karya negatifmu kemudian benahi jika bisa, balas dengan karya baru jika tak bisa dibenahi.
Tertawakan karyamu yang lama, meski itu tak lucu bagi orang lain, mungkin saja itu terlalu menggelikan bagimu untuk tak ditertawakan. Banyak orang yang malah sampai menghapus karyanya yang lama saking menggelikan karya itu baginya. Kau tak perlu sampai menghapusnya, jadikan saja dokumentasi perkembangan diri, sudut pandang setiap orang berubah setiap harinya, mungkin begitu pula dengan kemampuan.
Mencintai berkarya hingga kecanduan untuk berkarya akan jauh lebih baik untuk perkembangan dirimu dibandingkan kecanduan yang lainnya – meskipun kecanduan yang terbaik adalah kecanduan akan Tuhan – sebab hal ini membuatmu tetap produktif dan lebih positif. Positif bukanlah puncak, positif hanyalah sebuah ekstrem, sama halnya dengan negatif. Puncak diduduki oleh netral, tujuan terakhir adalah netral, namun jika tak mampu untuk netral maka cukuplah menjadi positif saja dulu, sisi yang tak terlalu buruk meskipun bukan puncak pula. Positif hanya merupakan “Titik aman sementara” kata seorang kawan.
Positif memerlukan negatif untuk menghasilkan pergerakan, sehingga negatif tak mungkin dihapuskan, jika kecenderungan untuk berbuat negatif lebih besar dan berbuat negatif begitu mudahnya dilakukan, mengapa perlu melakukannya? Bahkan tak perlu perjuangan untuk menjadi negatif bukan? Berupayalah hal yang memang layak diupayakan, berupayalah untuk jadi netral, jika tak mampu maka berupaya menjadi positif saja, sebab negatif tak perlu upaya.
Menjadi diri sendiri adalah menjadi netral, menjadi saksi atas diri sendiri hingga tak terpaut pada susah-mudah, sedih-senang. Saksi bahkan tak punya keakuan dalam sebuah kejadian, hanya melihat dan begitu saja, tidak berlaku dan juga tidak menilai kejadian tersebut. Saksi ada di situ saat kejadian namun tak punya andil di dalamnya.
Berupaya menjadi saksi bukan berarti boleh sembarangan menggunakan matamu untuk melihat. Tetap turunkan pandanganmu sebab kau belum sampai di tingkatan netral. Kau masih menilai, kau masih menjadi pelaku atau setidaknya memosisikan diri sebagai korban dalam kejadian. Maka dari itu, berlatihlah.

@TPSDP Elektro UNY
10 Januari 2019
01:00 PM

Komentar

  1. Tapi kecanduan Tuhan pun ora apik, bisa menghilangkan kemanusiaan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin kuwi gur kecanduan ibadah 🤔

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...