Aku bertemu dengan seorang yang
sefrekuensi denganku lagi. Awalnya aku hanya berasumsi, namun rupanya tebakanku
mengena. Kami baru saja memulai berbincang di kedai kopi Djelajah, dan sampai sudah topik kami pada hal-hal yang membuat
orang di sekitar mulai melirik sinis. Beberapa bahkan berpindah tempat duduk.
Aku tunjukkan
gambar di ponsel genggamku padanya. Gambar dreamcatcher yang berisi simbol-simbol agama "yang diakui" di Indonesia. Dia merespon gambar tersebut
dengan pertanyaan “Apakah kamu seorang atheis?”. Aku tersenyum melihat senyuman
yang juga tergurat di wajahnya. “Bukan” jawabku “namun aku adalah seorang
omnis”. Kujelaskan juga konsep dari omnis yang merupakan keadaan di mana
seseorang percaya akan adanya Tuhan juga percaya bahwa agama adalah konsep yang
baik, namun seorang omnis tak mengatasnamakan diri sebagai pengikut salah satu agama.
“Apa bedanya dengan Agnostik?” tanya seorang temanku, “Omnis adalah mereka yang
ingin belajar semua agama” jelasku. Temanku hanya mengangguk, namun orang ini
justru menjawab “aku juga omnis” setelah mendengar pemaparanku.
Tak
seoranglainpun berhak mengatur kehidupan beragama kita. Beragama adalah urusan
pribadi dengan Tuhannya. Tak seorangpun dapat mewakilkan orang lain untuk
beragama. Jika agama merupakan jalan dan Tuhan merupakan tujuan, maka agama
manapun menujukan kita kembali pada-Nya. Namun bagaimana jika sejarah telah
dibelokkan? Bagaimana jika ada dalang yang berkiprak dibalik agama-agama yang
bertahan hingga kini? Bagaimana jika yang bertahan hanyalah yang "dibolehkan
bertahan" oleh si dalang (sebab mau menerima suap)? Toh pendiri agama bukanlah
nabinya melainkan pengikut nabi tersebut. Belum lagi dewasa ini yang dianggap
paling layak dijadikan "kiblat agama" adalah yang bersuara paling lantang di
media. Bukankah guru seharusnya memilih muridnya? Bagaimana jika guru mengajar
murid yang belum siap? Bukankah itu seperti mengajarkan anak SD dengan materi kuliah? Pertanyaan dan pernyataan kami terus saja mengalir silih berganti,
hingga kopi di atas meja kehilangan kehangatannya.
Kami juga
berbincang tentang cinta. Dia bilang bahwa dirinya tak percaya pada "jatuh
cinta". Memang jika kupikir lagi “ke mana cinta itu jatuh saat aku jatuh
cinta?”, dia juga bertanya “kapan jatuhnya cinta itu?”. Jika cinta telah
terjatuh, bisakah kuambil lagi untuk kutaruh? Mungkin tidak, sebab aku tak
mengetahui dari mana jatuh dan tempat terjatuhnya. Kami juga tak
memahami wujud cinta itu, sampai-sampai ia bisa terjatuh. “Orang-orang sibuk
mendefinisikan cinta. Namun tak seorangpun dari mereka yang bisa mejelaskan
secara gamblang” katanya.
Belum tamat
cerita kami tentang cinta, topik kami sudah bergonta-ganti dalam hitungan detik.
Sepertinya ada terlalu banyak hal yang harus kami bahas: Buku yang dia baca,
anime yang aku tonton, kartun yang ternyata bukan lelucon, doktrin dalam film,
candi yang merupakan kapsul waktu dari para leluhur kepada anak cucu yang
diselesaikan bukan dalam semalam suntuk, kebohongan yang dituangkan dalam
sejarah, perasaanku padanya – tunggu dulu, sepertinya ini lain waktu saja.
Dia memukauku
meski kami baru saja bertemu. Aku suka dia, terutama pemikirannya. Sepertinya
tak terlalu hiperbolis ketika aku menyimpulkan bahwa dia juga suka padaku. Sebab
ketika kawannya mengajak pulang, dia memilih menahan diri tetap berada di atas kursi
untuk melanjutkan perbincangan denganku. Juga tatapan matanya yang tepat menuju ke dalam
mataku, aku yakin bahwa itu bukanlah tatapan yang biasa dia tujukan pada
sembarang orang.
“Hidupku
ditentukan oleh orang lain” katanya, yang kemudian kuisyaratkan bahwa aku
mengerti maksud logam kuning yang melingkar di jari manisnya. Dihelanya napas panjang
disertai kerutan di antara kedua alisnya. Kini kusimpulkan bahwa ketidakpercayaannya akan "jatuh cinta" adalah karena tidak diperbolehkan memilih orang yang dia cintai,
pun tak bisa dipilih oleh orang yang mencintainya. “Banyak yang bilang aku kaku
sebab masih berpegang teguh pada adat” katanya. Aku menjawab “Aku juga kaku
sebab berupaya melawan budaya di tempatku, yang kurasa tak punya landasan
teori”. “Aku tak bisa melawan, sebab aku telah disumpah” katanya, yang mana
kujawab dengan “Ya. Sumpah di saat bahkan kau belum mampu berkata ‘ya’ atau ‘tidak’”.
Budaya diciptakan oleh siapa? Budaya dibuat untuk siapa? Atas dasar kebiasaan
siapa? Jika kebiasaan telah berganti, atau jika yang dibudayakan bukanlah hal
yang baik, masihkah budaya itu layak untuk dipertahankan?
Semalam aku
mengubah sudut pandangku tentang berkenalan. Sebelumnya yang kupercaya sebagai "berkenalan" adalah aktivitas yang harus disertai dengan berjabat tangan dan menyebutkan nama. Tetapi dari
mana datangnya kata "harus", sedang ikan pun berenang melawan arus? Aku mengenal
orang ini bukan berdasarkan nama, dan kurasa memang tak perlu menyimpan namanya.
Dia adalah orang langka yang mungkin seharusnya sudah punah. Pemikiran jiwa tua
dalam tubuh yang berusia kurang dari delapan belas tahun. Dia adalah seekor
Mamut Berbulu yang hidup di era teknologi.
09 Februari
2019
02.22 AM
@Kost Santren
Sudahkah tulisan ini dibaca oleh marmut yang kau sebut hidup di era teknologi?
BalasHapusAku belum pernah menunjukkan kepadanya, dan kami juga tidak memiliki kontak satu sama lain. Jadi kemungkinan besar adalah: dia belum membacanya.
HapusBelakangan kalau kami bertemu secara tidak sengaja (lagi), akan kutunjukkan tulisan ini padanya.