Langsung ke konten utama

Yang mulia

Kau yang berhati mulia, terimakasih atas perhatianmu padaku.

Kau selalu menasehatiku untuk mengamplas kekuranganku, menghaluskan bagian-bagian yang masih saja kasar meski telah kupoles dengan berbagai pernak-pernik.

Kau yang ingin aku menjadi sosok sempurna, persis seperti yang ada dalam bayangan idealismemu.

Pahat aku lagi amplas aku lagi kritisi aku lagi dan lagi, hingga kau tak ada lagi waktu untuk memperhatikan dirimu sendiri.

Aku bersyukur memiliki kawan yang sangat perhatian bagai dirimu, tapi untung apakah dirimu jika nantinya aku menjadi ideal seperti yang kau mau? Pun jika aku sempurna, mungkin kau akan tetap sama saja.

Kau sempurna apa adanya kawan, setidaknya mungkin itu yang ada dalam benakku, kau benar, kau baik, kau mulia, setidaknya untuk saat ini menurut sudut pandangmu, dan menurutku memang tak perlu aku mengajarimu ini dan itu.

Aku tak akan menyarankan apapun jika kau tak meminta saran, selama kau tahu yang mana seharusnya dan yang tidak, itu saja sudah cukup. Tahu mungkin tak akan pernah cukup jika belum sampai di pelaksanaan, namun itu saja sudah lumayan untuk menjadi tolak ukur langkahmu berikutnya.

Pelajaran darimu, akan kuingat baik-baik, meski mungkin suatu saat aku yang akan mengajarimu tentang hal itu.

Komentar

  1. Menarik, bahwasanya orang selalu berekspetasi seseorang sesuai dg yg diingkannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena cita-cita yang tak tercapai

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi

Ada yang mengatakan bahwa sikap paling kejam yang dapat dilakukan oleh manusia adalah ketidakpedulian. Mengritik, menghina bahkan mencaci masih belum ada apa-apanya, sebab di situ masih ada perhatian. Orang yang mengritik, harus fokus pada sesuatu yang dikritik, tetapi orang yang tidak peduli… ya tidak peduli. Kemudian sikap yang disebut sebagai “paling baik” adalah mengapresiasi. Apresiasi yang katanya merupakan sikap terbaik, ternyata tidak selalu diindahkan oleh orang. Kecurigaan mengakibatkan apresiasi yang kuberi justru dianggap “pujian yang bertujuan”, entah bertujuan untuk menjatuhkan nantinya, atau untuk cari muka. Menurutku apresiasi sangatlah berbeda dengan pujian. Apresiasi adalah penghargaan yang pas dan apa adanya, tidak melebihkan pun tidak mengurangi, sementara pujian adalah sesuatu yang hiperbolis. Kucoba memperhatikan kebiasaanku dalam menyikapi perilaku orang, apresiasi ternyata menjadi pilihan pertamaku sementara pujian menjadi pilihan terakhir. Kritik merupakan pili...

Bundo

Tanggal 28 Juli kemarin aku berbincang dengan seorang kawan lama. Kawan satu kost beberapa bulan di tahun 2018. Kawan yang semenjak kami berteman, aku tidak pernah marah padanya. Kawan yang memperkenalkanku dengan perempuan yang kini menjadi istriku. Kawan yang dipanggil “Bundo” meskipun fisiknya laki-laki. Jika kuingat lagi, ternyata nama Bundo itu aku yang memberinya. Berawal dari kejadian di mana dia mengenakan kain tenun untuk menutup kepalanya yang kedinginan. Terlihat seperti Ibu-ibu di film berlatar Minangkabau bagiku, maka spontan saja kupanggil dengan panggilan itu dan ternyata disambut oleh teman-teman lainnya. Sambutan dari teman-teman tentu bukan sekadar ikut-ikutan, namun memang karena si Bundo ini seperti seorang Ibu di komunitas kami. Dia merupakan orang yang paling akomodatif ketika anggota lain membutuhkan sesuatu. Dia menjadi yang paling bertanggungjawab ketika orang lain memilih untuk lepas tangan. “Saya marah sekali Bli! Teman-teman setelah pakai peralatan, ti...

Sepi-ritual

Malam Natal kemarin, ada satu topik perbincangan yang membuatku berpikir ulang soal ajaran agama. Obrolannya seputar peribadatan dan orang-orang yang hidupnya bermasalah karena meninggalkan sembahyang. Bermasalah kesehatan mentalnya, disebut sebagai “kurang sholat”. Takut menjalani hidup dan muncul keinginan bunuh diri, dibilang “kurang sembahyang”. Apa iya semua permasalahan dapat terselesaikan dengan rajin sembahyang? Atau jangan-jangan masalah sebenarnya berada di keterpaksaan sembahyang? Terpaksa sembahyang sangat sering kutemukan di kalangan anak kecil. Banyak temanku yang bersembahyang untuk menghindari kemarahan Ibu-Bapaknya. Meskipun Ibunya selalu bilang “kalau kamu tidak sembahyang, Tuhan akan marah” namun kukira si anak tidak pernah merasakan kemarahan Tuhan. Kemarahan Ibunyalah yang nyata bagi si anak. Ketakutan itulah yang dibawa sampai si anak tumbuh dewasa. Dewasa secara usia, namun masih level bocah dalam hal spiritual. Ini bukanlah penghinaan terhadap bocah, namun...